Minggu, 16 Desember 2018

Kopi Kitchen at Kemang Village



Kopi Kitchen is definitely one of my go-to spot in Kemang Village.

Isi menunya bermacam-macam, mulai dari menu tradisional hingga modern, mulai dari masakan khas Indonesia, Asia bahkan ke Amerika.

Saya suka banget sama Buttermilk Fried Chicken (IDR 75,000), yaitu ayam yang digoreng dengan bumbu buttermilk yang cukup ngetren. Rasanya gurih, walaupun ayamnya agak sedikit amis. Mungkin karena rendaman bumbunya kurang lama ya. Anyway, disajikannya masih sangat hangat, jadinya cukup bagus deh buat saya.

Setiap satu porsi Buttermilk Fried Chicken, disajikan dengan mased potatoes plus gravy nya yang emnggoda banget. Mashed potato nya lembut dan hangat, gravynya juga ga kalah hangat. Cocok  banget.




Minumannya saya pesan Hot Milo Espresso (IDR 40,000) alias gabungan hot milo dan espresso. Tabrakan dong ? Yap, tapi itulah nikmatnya. Kekontrasan manisnya Milo dicampur dengan espresso yang kuat dan pahit, bikin perut kosong jadi hangat.



Address : Kopi Kitchen
Rasa : 🌟🌟🌟🌟
Suasana : 🌟🌟🌟🌟
Harga : 🌟🌟🌟🌟
Pelayanan : 🌟🌟🌟🌟

Sabtu, 15 Desember 2018

List of Street Foods based on The World's Best Street Food from Lonely Planet

You guys may know about Lonely Planet.


I mean. Duh. Who doesn't ?

So I found the book that talked about street foods around the world, which is called as The World's Best Street Food that enlisted most popular street foods that located around the world.

Okay here goes the list :

Bunny chow - South Africa
Burek - Bosnia & Hercegovina
Ceviche de corvina - Peru
Chicken 65 - India
Chilli crab - Singapore
Chivito al pan - Uruguay
Chole batura - India
Choripan - Argentina
Cicchetti - Italy
Cocktel de Camaron - Mexico
Conch - Bahamas
Cornish pasty - England
Currywurst - Germany
Elote - Mexico
Falafel - Israel
Fuul mudammas - Egypt
Garnaches - Belize
Gimbap - South Korea
Gozleme - Turkey
Gyros - Greece
Hainanese chicken rice - Malaysia & Singapore
Hollandse Nieuwe haring - The Netherlands
Hot dog - USA
Jerked pork - Jamaica & Caribbean Islands
Juane - Peru
Kati roll - India
Kelewele - Ghana
Khao soi - Thailand
Knish - USA
Kuaytiaw - Thailand
Kushari - Egypt
Langos - Hungary
Maine lobster roll - USA
Mangue verte - Senegal
Meat pie - Australia
Mohinga - Myanmar (Burma)
Murtabak - Malaysia & Singapore
Otak-otak - Singapore, Malaysia & Indonesia
Oyster cake - Hong Kong
Pane, Panelle e Crocche - Italy
Pastizzi - Malta
Peso pizza - Cuba
Phat kaphrao - Thailand
Phat thai - Thailand
Pho - Vietnam
Pierogi - Poland
Pizza al taglio - Italy
Poisson cru - French Polynesia
Poutine - Canada
Pupusa - El Salvador
Red red - Ghana
Roasted chestnuts - Europe
Sabih - Israel
Samsas - Central Asia
Sarawak laksa - Malaysia
Sfiha - Lebanon
Som tam - Thailand
Spring roll - China
Stinky tofu - Taiwan
Takoyaki - Japan
Tamale - Mexico
Tea eggs - Taiwan & China
Walkie-talkies - South Africa
Yangrou chuan - China
Zapiekanka - Poland

I planned to taste all of these foods that listed. 
Some of these may be not be able to be tasted, as I am a Moslem and I definitely cannot eat whats are not on halal standards (what I mean is PORK).
But let's just try, and I will scratched down the foods that I tried.

Xo,

The Loner Foodie

Selasa, 23 Oktober 2018

What Is Foodie Trip for me?

What is a Foodie Trip to me?
Apa sih Foodie Trip buat saya ?

Saat ini Traveling memang sudah jadi hal yang lumrah untuk semua orang. Ibaratnya, semua orang dengan budget yang pas-pasan pun sudah bisa jalan-jalan.

Ada berbagai macam jenis traveler. Gak perlulah saya menjabarkan karena saya yakin sudah pada tau semua jenis-jenisnya. Dan kalau saya mengkategorikan, saya sih termasuk di antara backpacker dan flashpacker.

Saya masih menggunakan backpack untuk mengemas barang bawaan saya, masih mengorganisir seluruh itinerary saya sendiri, menginap juga masih di hostel dengan isi kamar rame-rame. Tapi saya juga masih suka 'hura-hura', suka jajan yang (lumayan) banyak dan suka beli oleh-oleh juga. Jadi kesimpulannya masih suka berlaku budget traveling ala backpacker, tapi masih berhura-hura juga hehehe.

Anyway, dari antara semua jenis traveler, saya hampir jarang banget menemukan orang yang memproklamirkan diri sebagai foodie traveler.

Bahkan literatur yang membahas foodie traveler untuk saat ini ya cuma bukunya Jodie Ettenberg (The Foodie Traveler's Handbook).

Rata-rata yang saya temukan di dunia sosmed traveler ya pada senang jalan-jalan ke tempat wisata umum, hop on hop off city bus, free walking tour, atau sekedar icip-icip street food.

Jarang sekali saya temuin blog orang yang membahas traveling ke suatu tempat dengan hanya sajian makanan khas daerah tersebut. Bahkan jarang yang melakukan jalan-jalan hanya untuk makan saja.

Memang sih, esensi dari traveling adalah untuk pergi menikmati tempat wisata dari daerah tersebut. Saya juga pasti bakalan jalan untuk ke tempat-tempat touristy tersebut. Ya tapi saya ingin sekali mungkin bisa bertemu teman-teman yang sama-sama senang foodie trip seperti saya ini.

Saya senang makan. Senang mencari restoran baru. Dan mereview juga. Saya juga senang traveling. Maka dari itu saya tentunya ingin mencombine dua hobi saya itu jadi satu, foodie traveling. Doing a foodie trip.

Memang ga mudah. Tentunya harus nabung, persiapkan cuti, dan juga tetek bengek lainnya. Kita bisa mulai dari yang dekat-dekat dulu. Jabodetabek, Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, lalu Asia Tenggara dan ke negara lainnya.

Semoga saya bisa, seenggaknya menambahkan esensi baru dalam dunia foodie dan dunia traveling, foodie traveler.

Xxoo.

-Rian The Loner Foodie yang Migrainnya lagi kumat-
Bogor, October 23rd 2018

Kamis, 27 September 2018

#TheLonerFoodieTrip Singapore - Malacca - Johor Bahru

Here goes, my very first #TheLonerFoodieTrip to Singapore - Malacca - Johor Bahru and end up in Singapore again.

Saya berencana akan pergi dari tanggal 1 November dan berakhir pada 5 November.

#TheLonerFoodieTrip ini saya lakukan dengan customized itinerary yang kiranya bisa memperkaya khazanah lidah makan-makan saya hehehe.

Dalam waktu yang tinggal 1 bulan lagi ini, saya tentunya udah semakin ga sabar :)

Saya yang pastinya akan share apa yang saya makan dan tentunya itinerary nya :)

See you soon ;)

Selasa, 30 Agustus 2016

Malay Village : Kampung Malaysia di Citos

Sudah beberapa kali ke restoran makanan Malaysia ini dan gak bosen-bosen sama sensasinya :) Saya kali ini pesan Nasi Lemak Ikan Dory dan minumnya Es Kopi Tarik Chocolate.


  • Nasi Lemak Ikan Dory
Nasi Lemak itu sama saja seperti Nasi Uduk. Tapi yang istimewa, Nasi Lemak ini pakai Ikan Dory Goreng sebagai temannya. Unik :) Saya suka banget. Sambal Nasi Lemak yang khas itu juga cocok banget dicocol sama Ikan Dory nya. Saya yang biasanya gak suka sama Telor Rebus, jadi suka gara-gara makan Nasi Lemak ini hehehe. Teri Kacangnya juga cripsy dan gurih. The Loner Foodie gives 4 out of 5 :)

  • Es Kopi Tarik Chocolate
Kalau biasanya kita minum Es Teh Tarik, kali ini saya pesan Es Kopi Tarik. Pembuatannya sama saja seperti Teh Tarik, dengan cara mencampur-campur teh dan susu dengan cara dituang dari gelas tinggi ke gelas rendah dengan ritme seperti ditarik-tarik. Hanya saja ini dengan kopi. 
Yang paling istinewa. KOPI TARIK DENGAN COKLAT. Amazing kan? Rasanya? Jangan ditanya. ENAK BANGET :) Segar banget, dan gak bikin enek, walaupun basically campuran kopi, susu dan coklat. JUARA :) The Loner Foodie gives 5 out of 5.

Makanan di Malaysian Village memang seperti makanan khas kampung di Malaysia sana. Walaupun harganya cukup bisa merogoh kantong. Seengaknya satu lembaran merah keluar dan stau lembaran biru keluar, tapi nggak bikin rugi, karena rasanya enak :)






Naked Burrito Cilandak Town Square

Sebenarnya, restoran Mexico di Jakarta sudah lumayan banyak bermunculan dimana-mana. Kesemuanya menawarkan makanan pedas dan setipe : BURRITO. Salah satunya adalah Naked Burrito yang ada di Citos ini. Dengan konsep perpaduan antara makanan Mexico dan makanan Indonesia, jadilah beberapa menu Burrito dengan rasa yang cukup 'Indonesia'.

Standar pedasnya lumayanlah. Bagi yang ga suka pedas, mendingan jangan memilih menu pedas, Salsa Verde atau sambal hijaunya LUMAYAN BIKIN LIDAH KEBAKAR. Hehehe. Saya pesan yang ground beef,  pakai nasi cilantro (beras Mexico), pico de gallo (acar khas mexico yang terdiri dari tomat merah dan hiaju dan cabai), kacang-kacangan, lettuce, kol dan saus Salsa Caliente yang PEDES!!!!

Overall sih saya suka banget. Karena saya memang pecinta makanan pedas :) dan unik pula.

The Loner Foodie gives 4 out of 5.


Ketupat Kandangan Antasari

Ternyata saya sebenarnya sudah food-blogging selama 1 tahun! First post saya di Zomato ternyata tanggal 28 Agustus 2015, dan saya memulai Zomato saya dengan makan Ketupat Kandangan di daerah Antasari, Jakarta Selatan.

Saya pesan Ketupat Kandangan. Salah satu makanan khas Banjar dengan potongan ketupat yang disiram dengan semacam 'opor', dengan potongan besar ikan bandeng. Bayangan saya, kuah santan dari 'opor' ini akan amat sangat kental, terlihat dari putihnya si kuah 'opor' ini. Tapi ternyata yang saya dapatkan, rasanya cukup encer. Bumbunya kurang begitu kencang, tapi sebenarnya enggak terlalu buruk, kok. Ikan bandeng yang saya terima bentuknya cukup besar. Satu ukuran ikan lele hehehehe :D.

Saran saya : Makanlah ketupat kandangan ini dengan tambahan lauk lain seperti tempe atau tahu, dan sambal yang cukup banyak, biar bumbunya makin 'berasa'. Dalam ketupat ini cuma ada ketupat dan serta kuah santan aja, nothing else. Tidak usah berekspektasi terlalu banyak.

The Loner Food gives 3 out of 5.